Dalam lamunanku, aku melamuni-Nya
tidak melakukan apa-apa, tapi selalu memikirkan-Nya
Bukan sajadah, bukan kitab di depanku
Hanya buku, pulpen dan asbak dengan tumpukan beberapa batang rokok beserta abunya
Apakah bila aku mati akan sama seperti rokok itu?
Ketika habis, menjadi abu yang mengganggu
Ketika habis, menjadi sampah yang jauh dari kata fitrah
Ketika habis, menjadi barang yang harus dibuang
Sudah jauh aku pergi
Tapi lupa untuk kembali
Aku tahu jalan pulang
Tapi selalu ingin berpetualang
Semoga suara-Mu masih dapat terdengar
Semoga selalu ada jalan pulang
Semoga sumpahku tidak ku ingkari
Dan, semoga aku habis ketika aku tiba di rumah
Kemungkinan adalah harapan
Sabtu, 30 Agustus 2014
Sabtu, 26 November 2011
Cita-cita siapa?
Selama ini orang tua hanya menganggap bahwa dirinyalah yang telah banyak berkorban untuk kemajuan dan kesuksesan si anak. Mereka tidak tahu, atau bahkan yang lebih parah lagi mereka tidak mau tahu bahwa ternyata si anak juga telah banyak berkorban untuk orang tuanya.
Orang tua selalu mengarahkan anak untuk menerima pendidikan yang mereka (orang tua) anggap bagus, tanpa memperdulikan kehendak si anak, “sekolah disini, les disini, kuliah disini, fakultas ini”. Memang secara materi mereka sudah sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pendidikan si anak. Tapi, apakah semua pendidikan itu sesuai dengan apa yang si anak mau? Apakah sesuai dengan cita-cita-nya? Apakah anak senang menerima pendidikan itu? Banyak sekali anak yang menjerit, mereka terpaksa mengikuti semua kemauan orang tua. “Kamu ambil fakultas ini ya, biar sukses.” Apakah mereka sebelumnya tidak berfikir bahwa itu sesuai dengan kemauan si anak? Kenapa terlalu banyak orang tua di dunia ini yang hanya mau didengar? Kapan mereka mau mendengar? Apakah kamu tahu wahai orang yang aku hormati, bahwa anakmu itu juga banyak berkorban! Mereka mengikuti apa kemauan orang tuanya! Mereka ingin orang tuanya bangga! Padahal mereka muak, mereka mau memuntahkan semuanya! Tapi karena mereka mengingatmu, mereka terpaksa kembali menelan muntah mereka sendiri!
Demi kamu para orang tua yang terhormat, kami merelakan cita-cita kami! Agar kami bisa mendapatkan banyak uang, itu yang kamu inginkan kan? Apakah kamu berfikir tentang kesenangan kami? Melalui cita-cita kami, kami juga bisa meraih banyak uang! Walaupun yang kami kejar bukan hanyalah itu, melainkan adalah sesuatu yang lebih penting , yaitu kepuasan hati. Tapi aku rela berkorban demi mendapatkan kepuasan hatimu. Aku cukup senang melihatmu tersenyum diatas kesuksesan yang sebenarnya merupakan bebanku. Pekerjaan ini tidak menyenangkan bagiku. Yang aku inginkan, pekerjaanku adalah cita-citaku. Ini semua kembali hanya untuk memuaskanmu, membuat kamu senang, wahai orang tuaku yang kucintai..
Senin, 21 November 2011
Hai, teman
Hai temanku, apa kabar? Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang bersenang-senang? Apa kamu menikmati hidupmu? Dan..apa lagi pengkhianatan yang sedang kamu rencanakan?
Aku sedang mengingatmu saat ini, temanku. Mengingatmu ketika kamu sedang berusaha membuat lantai dansa di atas kepalaku. Mengingatmu dengan sangat rinci hal-hal yang kamu lakukan saat merusak suatu hubungan yang kukira sebelumnya ini sangat kokoh dan kuat.
Hai temanku, kamu tau apa yang sedang aku lakukan? Aku...aku sedang melihat beberapa kenangan yang kita lakukan. Kita mempunyai mulut yang sangat lebar saat itu, karena apapun yang sedang kita lakukan, akan selalu kita akhiri dengan tertawa yang sangat membuat orang lain disekitar kita justru merasa terganggu. Haha indah ya saat itu, teman? Aku tidak mengerti apa yang membuat aku bisa tertawa dengan megahnya saat itu. Mungkin kamu bisa beritahu aku, teman?
Aku tahu dan sangat mengerti bagaimana cara mengeluarkan sumpah-serapah, makian, hinaan, dan aku juga sangat mengerti mengapa kata-kata kasar namun indah bagi para pengucapnya itu dibuat.
Tidak..aku tidak akan memakai combo-combo tersebut kepadamu. Kamu itu temanku, dan aku yakin aku tidak membuat kesalahan saat dengan begitu saja kamu tiba-tiba menjadi akrab denganku lalu kita menjadi seperti seorang pecinta sesama jenis dalam arti yang berbeda.
Bagiku, kamu masih temanku sampai saat ini. Aku selalu membayangkan rencana yang akan kita buat sambil berkali-kali melihat apakah kamu ada di pintu gerbang rumahku, berada di depanku dan mengucap minta maaf.
Aku memang tidak bisa memulai sesuatu dengan benar, dan aku tetap percaya aku masih seperti itu sampai saat ini sehingga kita tetap seperti ini, bermain dengan ego kita sendiri.
Aku menulis ini dalam sebuah catatan kecil, berharap ada sesuatu yang sangat tidak aku duga sehingga catatan ini bisa ada padamu lalu kamu baca hehe. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan, temanku?
Aku sedang mengingatmu saat ini, temanku. Mengingatmu ketika kamu sedang berusaha membuat lantai dansa di atas kepalaku. Mengingatmu dengan sangat rinci hal-hal yang kamu lakukan saat merusak suatu hubungan yang kukira sebelumnya ini sangat kokoh dan kuat.
Hai temanku, kamu tau apa yang sedang aku lakukan? Aku...aku sedang melihat beberapa kenangan yang kita lakukan. Kita mempunyai mulut yang sangat lebar saat itu, karena apapun yang sedang kita lakukan, akan selalu kita akhiri dengan tertawa yang sangat membuat orang lain disekitar kita justru merasa terganggu. Haha indah ya saat itu, teman? Aku tidak mengerti apa yang membuat aku bisa tertawa dengan megahnya saat itu. Mungkin kamu bisa beritahu aku, teman?
Aku tahu dan sangat mengerti bagaimana cara mengeluarkan sumpah-serapah, makian, hinaan, dan aku juga sangat mengerti mengapa kata-kata kasar namun indah bagi para pengucapnya itu dibuat.
Tidak..aku tidak akan memakai combo-combo tersebut kepadamu. Kamu itu temanku, dan aku yakin aku tidak membuat kesalahan saat dengan begitu saja kamu tiba-tiba menjadi akrab denganku lalu kita menjadi seperti seorang pecinta sesama jenis dalam arti yang berbeda.
Bagiku, kamu masih temanku sampai saat ini. Aku selalu membayangkan rencana yang akan kita buat sambil berkali-kali melihat apakah kamu ada di pintu gerbang rumahku, berada di depanku dan mengucap minta maaf.
Aku memang tidak bisa memulai sesuatu dengan benar, dan aku tetap percaya aku masih seperti itu sampai saat ini sehingga kita tetap seperti ini, bermain dengan ego kita sendiri.
Aku menulis ini dalam sebuah catatan kecil, berharap ada sesuatu yang sangat tidak aku duga sehingga catatan ini bisa ada padamu lalu kamu baca hehe. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan, temanku?
Langganan:
Postingan (Atom)